Batik dan Idealisme
Beberapa waktu yg lalu membaca sebuah artikel di koran Kompas, tentang dua orang pengrajin batik Pekalongan yang teguh pendirian untuk tetap menjaga martabat dan kebudayaan bangsa meskipun ditawari iming - iming pembayaran yang jauh lebih tinggi dari negara Malaysia. Dikatakan bahwa mereka "tidak mampu menjual budaya bangsa". Sebuah sikap nasionalis yang disertai keteguhan idealisme yang dipegang.
Pagi ini saya ditanya oleh seorang sahabat saya, apa yang dimaksud dengan fashion. Menurutnya fashion adalah packaging. Tidak diartikan secara spesifik. Saya katakan itu juga benar. Fashion bisa dipandang sebagai packaging, namun dengan makna yang lebih dalam. Fashion bisa dipandang dari berbagai sisi, tergantung kebutuhan masing - masing. Tapi satu yang pasti, makna fashion saat ini telah bergeser begitu jauh dari makna fashion pada awalnya. Fashion saat ini telah kehilangan idealismenya.
Fashion yang sekarang ini lebih mengutamakan image yang dibentuk dan bukan pembentukan image. Apa bedanya? Image yang dibentuk adalah konsep yang sudah dibuat dan disebarluaskan oleh pihak - pihak yang berkepentingan, seperti industri yang ada. Manusia secara tidak langsung diseragamkan.
Sementara pembentukan image adalah sebuah proses pembentukan dan penggodokan image sesuai karakter yang ada, orang per orang, individu per individu, bangsa per bangsa. Kualitas karakter dan keunikan setiap manusia dikukuhkan. Manusia secara langsung "dimanusiakan".
Saat kita berteriak - teriak tentang batik yang akan dipatenkan oleh Malaysia, berapa banyak dari manusia Indonesia yang memiliki batik? Berapa banyak batik yang dimiliki oleh setiap orangnya? Berapa sering dipakai? Seberapa jauh batik berperan dalam kehidupan manusia Indonesia? Jujur saja, sampai beberapa saat yang lalu, saya termasuk di antara mereka yang tidak memiliki satu helai batik sama sekali sejak lahir.
Batik jadi tidak ditempatkan sebagaimana mestinya, dan tidak lagi dihargai sebagai pembentukan image, melainkan sebagai image yang dibentuk. Bukan lagi dilihat sebagai bagian dari perwujudan pembentukan karakter bangsa, melainkan sebagai pakaian formal ataupun sesuatu yang hanya memuaskan ego bangsa sesuai image yang dibentuk industri.
Yang susah adalah, saat kita tidak rela batik menjadi milik Malaysia, berharap batik kita tidak dipatenkan, berseru agar orang - orang mencintai batik dan meminta agar para pengrajin batik setia untuk bersikap nasionalis dan idealis, nyatanya kita lebih memilih produk luar yang berkiblat pada image yang dibentuk oleh industri luar tersebut, daripada batik itu sendiri. Kita memilih image yang dibentuk bahwa produk luar lebih trendi dengan kiblat fashionnya, lebih bagus kualitasnya, dan bukan memilih pembentukan image bangsa Indonesia dari batik yg terlahirkan dan dilahirkan.
Tidak ada yang salah dengan itu dari sisi kapitalisme, konsumtivisme, maupun ekonomi. Satu - satunya yang salah hanyalah dari segi idealisme. Sama seperti apabila sebagian pengrajin - pengrajin batik kita memilih untuk menjual hasil budaya bangsanya untuk dijadikan hasil paten bangsa lain yang mampu membayar lebih tinggi. Tidak ada yang salah dari segi apapun kecuali dari segi idealisme.
Idealisme memang tidak akan mengenyangkan perut, tapi itu harga diri sebuah bangsa dan harkat martabat seorang yang disebut manusia. Bukankah yg membedakan manusia dan makhluk lainnya adalah akal dan harkat martabat?
Sebetulnya mudah saja untuk menutup mata dari semua ini. Kita bisa berdalih bahwa idealisme seperti itu tidak lagi cocok untuk jaman sekarang ini. Kita juga bisa mengatakan jaman sekarang tidak ada lagi idealisme kecuali idealisme ekonomi. Dan dengan begitu secara resmi kita menyatakan diri menyerah dengan keadaan, ketidakmampuan, dan pembodohan serta melepaskan harkat kita sebagai manusia dan sebagai bangsa.
Idealisme toh bukan sesuatu yang penting dalam kehidupan di dunia yang kapitalis, di mana ekonomi dan angka - angka memegang peranan utama. Namun tidak berlebihan apabila idealisme dikatakan sebagai esensi terpenting dalam sebuah kehidupan kemanusiaan yang sesungguhnya. Masalahnya, maukah kita memikirkannya, dan masih bisakah kita memikirkannya?
Manusia jaman sekarang sudah serba sibuk dengan kepentingan masing - masing demi keuntungan masing - masing. Kita semua bisa menutup mata dengan alasan sibuk, tidak mau pusing, tidak perduli, ataupun beribu alasan lainnya yang lebih enak didengar, dan toh tidak akan ada seorangpun yang menyalahkan. Tapi diakui atau tidak diakui, kita telah turut berpartisipasi dalam pembodohan dan proses "memiskinkan" karakter dan image bangsa.
Saat ini, saya tidak bisa mengatakan apakah mencintai batik itu penting atau tidak penting. Saya juga tidak bisa mengatakan apakah harus menjadikan batik sebagai pakaian kebangsaan sehari - hari. Sama seperti saya tidak bisa menyalahkan para pengrajin batik yang memilih "pindah" negara. Saya sama "tersesat"-nya dengan anda semua.
Tapi bisa saya rasakan dengan jelas, saya merasa sangat iri saat melihat bangsa lain memiliki dan dikenal luas dengan budayanya masing - masing. Saya juga merasa sangat tidak rela membayangkan batik menjadi brand milik negara lain. Dan saya masih selalu dan selalu terpukau sekaligus terhiris saat memegang batik dengan detail yang sempurna yang membutuhkan tiga bulan pengerjaan dan hanya di banrol lima ratus ribu rupiah saja, tidak lebih dari sehelai syal sederhana Zara saya!
Saya tidak tahu apakah batik masih layak dipertahankan sebagai brand Indonesia dan atau didukung keberlangsungannya sebagai bagian dari perwujudan identitas perjalanan bangsa. Sama tidak tahunya tentang apakah idealisme masih layak diperjuangkan di jaman sekarang ini, atau cukup mengenyangkan perut saja.
Satu yang saya tahu, sewaktu saya melakukan pameran di Bali Fashion Week VII untuk After Midnite Bag dan produk kami menggunakan batik, orang - orang luar langsung mengenalinya dan menghargai produk kami yang dikatakan terlihat semakin cantik dengan batik Indonesia.... dan terus terang, saya sangat bangga mendengarnya!
--------------------------------------------------------------------
Pemikiran dan perenungan pribadi akan batik dan idealisme.
Saya bukan kolektor batik, terlebih lagi ahli batik. Saya bahkan belum tahu bagaimana cara membedakan antara batik pesisir dan batik lainnya. Belum mengerti motif - motif batik yang ada di seluruh Indonesia. Bukan juga seorang penikmat budaya, apalagi pemikir negara.
Hanya seorang biasa yang sedang berusaha berpikir dengan hati dan memberanikan diri untuk mencoba bertanya dan mempertanyakan keyakinan diri sendiri.

Salah satu koleksi Indonesian Heritage yang menjadi favorit di BFF VII. Batiknya merupakan batik tulis dari bahan sutra.

Salah satu koleksi lainnya yang juga menjadi bintang di BFF VII, terbuat dari kain songket dan batu - batuan yang dibuat brooch.
PS: Silahkan meniru desainnya apabila anda tidak memiliki atau sedang kekurangan kreatifitas, namun tolong buat yang jauh lebih baik dan lebih hebat dari apa yang telah kami buat apabila memungkinkan. (VC/JKT/120208)